Cari Blog Ini

Kamis, 09 September 2010

Sisi lain Tentang Mudik Indonesia

Setiap tahun di tanah air tercinta kita ini ada perhelatan acara besar dan wajib. Saking besarnya urusan ini pemerintah harus ikut campur dan mengurusinya yaitu transportasi rakyat dalam skala yang massif atau besar-besaran. Orang bilang ini bisnis besar setahun sekali dan namanya MUDIK ATAU PULANG KAMPUNG, peak season Indonesia bukan pada saat tahun baru seperti pada belahan dunia lainya tapi tepat pada saat dirayakan Idul Fitri atau julukan lainya hari kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa seperti yang diwajibkan oleh agama. Tapi secara budaya dan tradisi selain memenuhi ajaran agama, juga menjawab rasa kangen dan panggilan untuk bertemu dengan saudara, orang tua, teman-teman, suasana kampung halaman, dan hal lainya.


Dalam judul saya katakan Ironi budaya mudik Indonesia itu dilihat dari dua hal yang masih satu berhubungan erat dengan lambannya kemajuan Republik yang baru saja merayakan ulang tahun ke 65 nya. Pertama, budaya mudik ini ada kaitan dengan ketimpangan ekonomi yang cukup besar diantara pulau-pulau besar di Indonesia. Sentra ekonomi semuanya berpusat di Jawa atau lebih tepatnya lagi berada di DKI Jakarta. Istilah bahasa English itu Melting Pot tapi saya lebih senang menyebutnya sumber rejeki. Kok bisa jadi sumber rejeki, buktinya setiap tahun pemerintah sehabis arus balik lebaran pasti sibuk mengalakan operasi yustisi atau bahasa mudahnya “ operasi cek KTP “ untuk mendata banyak pendatang baru yang memimpikan Jakarta sebagai mimpi Indah untuk mengubah hidup. Semua tau istilah ibukota lebih kejam dari Ibu tiri, itu benar tapi tak dapat dipungkiri juga bahwa semua inovasi, kemajuan dan informasi dimulai dari Ibukota yang dulunya sempat bernama Batavia. Loh apa urusanya sehingga mudik menjadi urusan besar dalam republik ini, oleh karena semua orang dari penjuru pulau di nusantara ini meninggalkan keluarga, orang tua dan mungkin anak untuk berlomba lomba mencari hidup yang lebih baik di Jakarta. Dan pada saat liburan lebaran yang panjang tiba, ini adalah saat yang tak dapat dilewatkan untuk berkumpul, berkangen-kangenan dengan keluarga yang ditinggalkan dan semua kenangan indah di kampung halaman. Masalahnya jadi besar karena ini dilakukan secara serentak oleh hampir 80 % penduduk Indonesia yang beragama Islam. Dapat dibayangkan betapa besar kekusutan bisnis ini bukan, kenapa kusut ? ini adalah poin kedua.

Kedua, sesudah 65 tahun Indonesia merdeka secara hukum menurut PBB tapi tampaknya kita belum banyak menyadari secara jelas konsekwensi kondisi geografis Negara ini yang didominasi oleh banyak pulau –pulau. Konsekwensi yang jelas menuntut adanya system tranportasi yang baik dan mencukupi. Walhasil ketika hari Lebaran tiba dan semua orang yang tadinya ada di Jawa secara serentak teriak mau pulang kampung. Yang dijumpai adalah kekacauan kemampuan moda transportasi untuk memenuhi permintaan tersebut. Berdasarkan data di Koran kompas ada lebih dari kira kira 2 juta orang mudik dengan motor meninggal karena kecelakaan dijalan. Kemacetan luar biasa di pelabuhan transit antar pulau jawa dan sumatera dalam 10 tahun terakhir ini. Setiap tahun tampaknya reaksi pemangku Negara ini hanya muncul dengan berita pelebaran jalan, koordinasi dinas perhubungan untuk menambah kapasitas transportasi, dan dibantu oleh iklan kesiapan para dealer mobil yang siap dengan bengkel di sepanjang jalan. Tanpa ada solusi jangka panjang.

Ada banyak orang sudah mulai menyerah dan memilih pulang kampung setelah lebaran lewat dan memilih memakai cara menelpon untuk meminta maaf dan berkangenan dengan keluarga. Resiko yang cukup besar ditempuh untuk mengubah nasib di Jakarta ternyata sama besar juga dengan resiko ditempuh untuk pulang ke kampung halaman.

Masalah mudik ini adalah masalah social dan solusi sebenarnya tidak sulit tapi membutuhkan niat karena harus dibangun dan dijalankan dalam waktu yang tidak sebentar. Sebenarnya persoalanya menurut kacamata penulis ada pada pemerataan ekonomi sehingga kesempatan kerja dan peluang usaha tersebar di semua pulau. Baiklah mungkin adil merata itu sulit ya !, namanya juga manusia tak ada yang sempurna. Coba kita khayalkan dengan di dibuat sentra ekonomi yang terorganisir seperti 2 tempat di Sumatera, 3 tempat di Kalimantan, 2 tempat di Sulawesi, 1 tempat di Papua, dan 3 di Jawa. Kita bisa harapkan ada pemecahan kepadatan massa kebeberapa tempat sehingga tidak membuat bottleneck seperti jawa sekarang ini. Tentu transportasi system tetap harus ada tapi setidaknya mudik jadi lebih manusiaswi dan ongkos nyawa sodara kito setanoh air tidak sia sia setiap tahun.


2 komentar:

  1. paragraf terakhir nya menggugah sekali, ijin membuka industrinya hanya diperbolehkan di luar Pulau Jawa aja. Sementara ijin industri di Jakarta ditiadakan.. bagaimana dengan ditribusi nantinya Bos Amry? Krn kalau tdk dipikirkan betul2 itu biaya angkut produksi bisa membuat harga jual produknya jadi mahal. Apa kita mainkan business internet aja.. hehehe.. contohnya online shop yg satu ini http://grosirbajuanak-perempuan.blogspot.com :D

    BalasHapus